Ajie Nikicio, Putera Indonesia Bikin Satelit dan Ikut Proyek SpaceX

Ajie Nikicio, Putera Indonesia Bikin Satelit dan Ikut Proyek SpaceX

Ajie Nikicio, Putera Indonesia Bikin Satelit dan Ikut Proyek SpaceX – Membuat satelit dan mengikuti proyek dari perusahaan teknologi sebesar SpaceX mungkin dipikir hanya mimpi di siang bolong bagi sebagian orang.

Namun hal tersebut tak berlaku bagi putera bangsa Indonesia Ajie Nayaka Nikicio, seorang putra bangsa yang kini tengah mengejar gelar masternya di System Design and Management di Massachusetts Institute of Technology (MIT).

Ajie, sapaan akrabnya, pernah ikut serta dalam proyek pembuatan Satelit Galassia kala dirinya menjalani pendidikan sarjana di National University of Singapore (NUS).

Selain itu, di sela kesibukannya berkuliah di MIT saat ini, Ajie pun turut serta dalam sebuah proyek kompetisi Hyperloop yang diadakan oleh SpaceX, hingga timnya berhasil memenangkan Innovation Award.

Minat Ajie di dunia teknik sendiri sudah mulai terpupuk mulai di bangku sekolah. Beberapa kali ia berkesempatan mengikuti lomba robotika, tak hanya di dalam negeri, bahkan hingga ke luar negeri.

Bahkan, pada tahun 2007 ketika berusia 14 tahun, dirinya sudah berpartisipasi dalam Olimpiade Robot Dunia di Taipei. Meskipun tidak memenangkan kejuaraan, pencapaian tersebut tentunya suatu hal yang besar mengingat dirinya yang masih berusia belia sudah membawa nama besar Indonesia di kejuaraan internasional.

Mewakili Indonesia untuk pertama kalinya dalam kompetisi internasional, World Robot Olympiad 2007. Foto: Indonesia Mengglobal

Memasuki jenjang perkuliahan, Ajie semakin menggenggam erat apa yang menjadi pasionnya, ia pun memilih jurusan engineering dan mengambil kurikulum khusus “Design-Centric Program”, yang membawanya masuk ke kurikulum Desain Sistem Antariksa (Space Systems Design) di NUS, yang pada saat itu baru pertama kali diadakan.

Di sana ia belajar hal-hal mengenai komponen satelit, struktur, komunikasi, sistem kendali, sampai ke peluncuran dan pengoperasian satelit.

Membuat satelit

Pada tahun keempat, Ajie berkesempatan untuk mengikuti proyek NUS dalam pembuatan dan peluncuran satelit kecil, bernama Galassia.

Baca Juga :  Mengenal Web Browser dengan Privasi Terbaik di Dunia

Galassia yang biaya pembuatannya mencapai ratusan ribu dollar, akhirnya berhasil diluncurkan dari Satish Dhawan Space Center di Sriharikota, India dan berhasil mencapai orbit tujuan pada 550 Km di atas permukaan laut.

Berpose bersama Galassia untuk terakhir kalinya sebelum dikirim ke India. Foto: Indonesia Mengglobal

Proyek SpaceX

Setelah menyelesaikan studinya dan menempuh karir riset selama tiga tahun di Satellite Technology and Research Centre NUS, Ajie pun melanjutkan pendidikan S-2 di MIT. Di situlah ia mendapat kesempatan untuk berpartisipasi dalam sebuah proyek kompetisi yang diadakan oleh perusahaan milik Elon Musk, SpaceX.

Tujuan dari proyek kompetisi tersebut adalah membuat prototype teknologi Hyperloop paling cepat. Hyperloop sendiri adalah teknologi pembuatan kereta super cepat di dalam terowongan vakum yang berkecepatan mencapai 1000km/jam, jauh lebih cepat bila dibandingkan kereta peluru di Jepang yang hanya mencapai 320km/jam.

Tim perwakilan MIT dimana Ajie bertindak sebagai Lead Electrical Engineer, berhasil menyabet gelar Innovation Award pada kompetisi tersebut berkat teknologi Air Bearing, yang melayangkan kereta menggunakan semburan udara.

Berpose dengan pod (kapsul) hyperloop MIT. Foto: Indonesia Mengglobal

Pesan bagi generasi muda

Ajie berpesan, bagi generasi muda yang ingin belajar dan menekuni industri space atau antariksa, untuk dapat mulai mempelajari dasar-dasarnya dari teknik elektro, teknik mesin, dan teknik informatika.

Dengan mempelajari dasar-dasar tersebut, peluang untuk masuk dan bekerja di LAPAN akan semakin besar, karena LAPAN telah meluncurkan tiga satelit buatan dalam negeri dan sedang mengembangkan proyek-proyek satelit yang lebih canggih lagi.

Ajie bersama Wahyudi Hasbi, pelopor program satelit Indonesia di Pusat Kontrol Misi LAPAN di Bogor. Foto: Indonesia Mengglobal

Namun bagi yang tidak memiliki dasar di bidang teknik, Ajie menyebut peluang untuk bergabung di sektor industri antariksa tetaplah besar, karena industri antariksa seperti industri lainnya adalah sebuah ekosistem yang membutuhkan ahli bisnis, marketing, human resource development, hukum, desain grafis dan sebagainya layaknya sebuah perusahaan yang butuh berbagai bidang untuk beroperasi.

Baca Juga :  6 hal yang akan membuat Ibu Kartini sedih jika melihat ini

Dengan masih mudanya industri antariksa di Indonesia, Ajie juga mengajak generasi muda untuk berani mengambil jalur kewirausahaan untuk memajukan industri ini. Masih sangat besar peluang bagi generasi muda untuk ikut serta sekaligus menciptakan lapangan kerja dan mentransformasi perekonomian Indonesia di era Industri 4.0 ini.

You May Also Like

About the Author: Cak Muhai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *