Cara Merancang Struktur Modal untuk Mendirikan Perusahaan

Cara Merancang Struktur Modal untuk Mendirikan Perusahaan

Cara Merancang Struktur Modal untuk Mendirikan Perusahaan – Struktur modal adalah perimbangan atau perbandingan antara modal asing atau dari eksternal dengan modal sendiri. Modal asing di sini bukan berarti modal dari warga negara asing (WNA), ya!

Modal asing adalah utang jangka panjang atau pendek yang diberikan pihak dari luar perusahaan seperti bank. Nah, sedangkan modal sendiri berarti laba ditahan dan cakupannya turut menyertakan sebagian harta pribadi sebagai milik perusahaan.

Dalam perusahaan sering disebutkan struktur modal yang optimal, yaitu struktur permodalan yang seimbang antara risiko dan pengembalian sehingga memaksimumkan harga saham. Agar ini tercapai, penetapan struktur modal suatu perusahaan perlu mempertimbangkan berbagai variabel yang memengaruhinya.

Pengertian struktur modal menurut para ahli

Para ahli manajemen keuangan menjelaskan pengertian struktur modal sebagai berikut.

  • Frank J Fabozzi dan Pamela Peterson (2000), mengartikannya sebagai kombinasi antara utang dan ekuitas yang digunakan untuk membiayai proyek perusahaan.
  • J. Fred Weston dan Thomas E Copeland (1996), adalah pembiayaan permanen yang terdiri dari utang jangka panjang, saham, dan modal pemegang saham.
  • Farah Margaretha (2004), merupakan pembiayaan permanen perusahaan yang terdiri atas utang jangka panjang dan modal sendiri.

Tujuan manajemen struktur modal

Struktur modal menjadi poin penting dalam struktur perusahaan. Baik atau buruknya struktur modal akan berdampak langsung terhadap posisi finansial perusahaan, terutama kehadiran utang yang cukup besar hingga membebani kinerja perusahaan.

Pentingnya struktur modal ini bisa diilustrasikan sebagai berikut.

Ketika kita hendak mendirikan sebuah perusahaan, sebutlah berskala usaha kecil menengah (UKM) dengan modal yang tidak terlalu besar, kita tetap membutuhkan modal tambahan untuk merealisasikan bisnis tersebut.

Lalu dari mana kita mendapatkan modal tambahan ini? Apakah dari pinjaman bank (eksternal) seperti Kredit Usaha Rakyat (KUR) atau justru mencari investor seperti yang kerap dilakukan perusahaan rintisan (startup).

Dengan contoh tersebut, bisa disimpulkan berikut tujuan dari struktur modal.

  • Memadukan sumber-sumber dana permanen yang digunakan perusahaan untuk operasional yang akan memaksimalkan nilai perusahaan itu sendiri.
  • Memudahkan pencarian struktur modal yang optimal.
  • Mengurangi kemungkinan menanggung risiko berlebihan atas nama pemegang saham.
  • Menjadi batasan bagi pemegang saham, terutama kapasitas dan haknya, dalam perusahaan.
  • Memaksimalkan kegiatan perusahaan.

Faktor-faktor yang memengaruhi struktur modal

Dalam merancang struktur modal, ada beberapa hal yang disertakan dan bakal memengaruhinya. Selain jadi pegangan dalam membuat struktur modal, nantinya lima hal berikut ini bisa jadi patokan nominal terendah dan tertinggi dalam mengajukan pinjaman ke bank.

Baca Juga :  Cara Screenshot Vivo Y53 Mudah dan Cepat

Lima faktor tersebut adalah struktur aktiva, growth opportunity, ukuran perusahaan, profitabilitas, dan risiko bisnis. Berikut penjelasan dari masing-masing faktor.

1. Struktur aktiva (tangibillity)

Kebanyakan perusahaan industri yang sebagian besar modalnya tertanam dalam aktiva (kekayaan perusahaan) tetap akan mengutamakan pemenuhan modalnya dari modal permanen yaitu modal sendiri, sedangkan utang bersifat pelengkap.

Sementara , perusahaan yang semakin besar aktivanya dan terdiri dari aktiva lancar akan cenderung mengutamakan pemenuhan kebutuhan dana dengan utang. Hal ini menunjukkan adanya pengaruh struktur aktiva terhadap struktur modal suatu perusahaan.

2. Growth opportunity

Penjelasan dari faktor kedua ini adalah kesempatan perusahaan untuk melakukan investasi pada hal-hal yang menguntungkan. Teori agensi menggambarkan hubungan yang negatif antara growth opportunity dan leverage (penggunaan aset dan sumber dana).

Biasanya, perusahaan dengan tingkat leverage tinggi cenderung melewatkan kesempatan dalam berinvestasi, meskipun kesempatan investasi ini berpeluang besar untuk meraup keuntungan.

3. Ukuran perusahaan (firm size)

Perusahaan besar cenderung akan melakukan diversifikasi usaha lebih banyak dibandingkan perusahaan kecil. Oleh karena itu kemungkinan kegagalan dalam menjalankan usaha atau kebangkrutan akan lebih kecil.

Ukuran perusahaan sering dijadikan indikator bagi kemungkinan terjadinya kebangkrutan bagi suatu perusahaan, di mana perusahaan dalam ukuran lebih besar dipandang lebih mampu menghadapi krisis dalam menjalankan usahanya.

4. Profitabilitas

Perusahaan dengan profitabilitas yang tinggi tentu memiliki dana internal yang lebih banyak daripada perusahaan dengan profitabilitas rendah. Perusahaan dengan tingkat pengembalian yang tinggi akan berinvestasi menggunakan utang yang relatif kecil.

Tingkat pengembalian yang tinggi memungkinkan untuk membiayai sebagian besar kebutuhan pendanaan dengan dana yang dihasilkan secara internal. Hal ini menunjukkan bahwa profitabilitas berpengaruh terhadap struktur modal perusahaan.

5. Risiko bisnis

Risiko bisnis akan mempersulit perusahaan dalam melaksanakan pendanaan eksternal, sehingga secara teori akan berpengaruh negatif terhadap leverage perusahaan. Karena itu, bagi yang mau memulai bisnis sebaiknya pertimbangkan bisnis yang memiliki risiko lebih kecil agar semakin mudah mendapatkan pendanaan eksternal.

Komponen struktur modal

Struktur modal sendiri bisa dirancang dengan beberapa komponen penting, di antaranya adalah modal asing dan modal sendiri, berikut ini rinciannya.

1. Modal asing 

Modal asing merupakan utang dari luar yang ditujukan sebagai modal perusahaan. Karena ini utang, maka pihak perusahaan berkewajiban untuk membayarnya di kemudian hari sesuai dengan kesepakatan. Modal asing ini dibagi menjadi tiga jenis.

  • Jangka pendek, yang artinya pengembalian modal tidak lebih dari satu tahun.
  • Jangka menengah, pengembaliannya dalam waktu 1-10 tahun.
  • Jangka panjang, utang yang pengembaliannya lebih dari 10 tahun.

2. Modal sendiri

Namanya juga modal sendiri, tentu ini asalnya dari si pemilik perusahaan. Biasanya modal ini akan terus ditanam di dalam perusahaan untuk jangka waktu yang tak ditentukan.

3. Modal saham 

Yaitu sebagai tanda bukti pengembalian bagian atau kepemilikan di dalam perusahaan. Bentuknya pun bisa berupa saham biasa, saham preferen, atau saham kumulatif.

4. Cadangan 

Cadangan merupakan keuntungan yang didapatkan oleh perusahaan di masa lalu atau di masa yang masih berjalan.

5. Laba ditahan 

Laba ditahan merupakan keuntungan yang didapatkan oleh perusahaan, namun sebagian bisa dibayarkan sebagai dividen dan sebagian lagi ditahan oleh perusahaan.

Baca Juga :  Cara Menggunakan Google Analytics (Panduan Lengkap)

Teori struktur modal

Berdasarkan pengertian struktur modal dapat disimpulkan bahwa struktur modal berhubungan erat dengan proporsi keuangan antara utang jangka pendek, utang jangka panjang, dan modal sendiri untuk menjalankan aktivitas perusahaan.

Pengertian struktur modal sendiri diambil dari beberapa teori berikut ini.

1. Teori Pendekatan Tradisional

Teori ini berpendapat bahwa akan adanya struktur modal yang optimal. Artinya, struktur permodalan memiliki pengaruh terhadap nilai perusahaan di mana nominal dan lain-lainnya bisa berubah-ubah agar nilai perusahaan optimal.

2. Teori Pendekatan Modigliani dan Miller (MM)

Dalam MM yang disebut sebagai teori modern terdapat dua teori berdasarkan pajak dan tanpa pajak. Dalam teori tanpa pajak, mereka berpendapat bahwa struktur modal tidak relevan atau tidak memengaruhi nilai perusahaan dan teori dengan pajak.

Teori MM tanpa pajak

Penjelasan ini didasari beberapa asumsi, yaitu:

  • Tidak terdapat agency cost.
  • Tidak ada pajak.
  • Investor dapat berutang dengan tingkat suku bunga yang sama dengan perusahaan.
  • Investor memiliki informasi yang sama seperti manajemen mengenai prospek perusahaan di masa depan.
  • Tidak ada biaya kebangkrutan.
  • Pendapatan sebelum bunga dan pajak (EBIT) tidak dipengaruhi oleh penggunaan dari utang.
  • Para investor adalah price-takers.
  • Jika terjadi kebangkrutan maka aset dapat dijual pada harga pasar (market value).

Teori MM dengan pajak

Teori MM tanpa pajak dianggap tidak realistis dan kemudian MM memasukkan faktor pajak ke dalam teorinya. Pajak dibayarkan kepada pemerintah yang berarti merupakan aliran kas keluar. Utang bisa digunakan untuk menghemat pajak karena bunga bisa dipakai sebagai pengurang pajak.

3. Teori Trade-Off

Dalam teori ini dijelaskan bahwa perusahaan akan berutang sampai pada tingkatan tertentu, di mana penghematan pajak (tax shields) dari tambahan utang sama dengan biaya kesulitan keuangan (financial distress).

Biaya kesulitan keuangan adalah biaya kebangkrutan (bankruptcy costs) atau re-organization, dan biaya keagenan (agency costs) yang meningkat akibat penurunan kredibilitas suatu perusahaan.

Dalam menentukan struktur modal yang optimal terdapat beberapa faktor antara lain pajak, biaya keagenan, dan biaya kesulitan keuangan. Namun, tetap mempertahankan asumsi efisiensi pasar dan informasi lain sebagai bahan pertimbangan manfaat penggunaan utang.

4. Teori Pecking Order

Teori ini menjelaskan mengapa perusahaan yang mempunyai tingkat keuntungan yang lebih tinggi justru memiliki tingkat utang yang lebih kecil. Secara spesifik, perusahaan punya urutan-urutan preferensi dalam penggunaan dana. Skenario urutan dalam teori ini adalah sebagai berikut.

  • Perusahaan memilih pandangan internal terkait dana yang diperoleh dari laba (keuntungan) kegiatan perusahaan.
  • Perusahaan menghitung target rasio pembayaran didasarkan pada perkiraan kesempatan investasi.
  • Karena kebijakan dividen yang konstan, digabung dengan fluktuasi keuntungan dan kesempatan investasi yang tidak bisa diprediksi, akhirnya akan menyebabkan aliran kas yang diterima oleh perusahaan menjadi lebih besar dibandingkan dengan pengeluaran investasi pada saat-saat tertentu dan akan lebih kecil pada saat yang lain.
  • Jika pandangan eksternal diperlukan, perusahaan akan mengeluarkan surat berharga yang paling aman terlebih dulu. Perusahaan akan memulai dengan surat utang, kemudian dengan surat berharga campuran seperti obligasi konvertibel, dan kemudian barangkali saham sebagai pilihan terakhir.
Baca Juga :  Tips dan Trik Lengkap Cara Menggunakan Brankas Pribadi di Smartphone OPPO

5. Teori Asimetri Informasi dan Signaling

Teori ini mengatakan bahwa ada pihak-pihak yang berkaitan dengan perusahaan, namun tidak memiliki informasi yang sama mengenai prospek dan risiko perusahaan. Dengan kata lain, pihak tertentu bisa saja memiliki informasi yang lebih banyak dari pihak lainnya. Teori ini terdiri atas:

Myers dan Majluf

Menurut teori ini ada asimetri informasi antara manajer dengan pihak luar. Manajer tentu punya informasi yang lebih lengkap mengenai kondisi perusahaan dibandingkan pihak luar.

Signaling

Mengembangkan model di mana struktur modal (penggunaan utang) merupakan sinyal yang disampaikan oleh manajer ke pasar. Jika manajer memiliki keyakinan bahwa prospek perusahaan baik dan karenanya ingin agar saham tersebut meningkat, maka manajer akan  mengomunikasikan hal tersebut kepada investor.

6. Teori Keagenan (Agency Approach)

Menurut pendekatan ini, struktur modal disusun untuk mengurangi konflik antar berbagai kelompok kepentingan. Konflik antara pemegang saham dengan manajer adalah konsep free cash flow. Ada kecenderungan manajer ingin menahan sumber daya demi bisa mengendalikan sumber daya tersebut.

Utang bisa dianggap sebagai cara untuk mengurangi konflik keagenan free cash flow. Jika perusahaan menggunakan utang, maka manajer akan dipaksa untuk mengeluarkan dana kas perusahaan untuk membayar bunga.

Tips merancang struktur modal

 

Untuk merancang struktur modal perusahaan harus menyadari bahwa hal tersebut sangat kritikal dalam pengelolaan perusahaan kelak. Beberapa CEO perusahaan berpendapat bahwa mengelola permodalan adalah separuh dari urusan pengelolaan perusahaan.

Dari pendapat ini dapat dilihat bahwa untuk merancangnya tidak bisa sembarangan karena kita harus mengetahui potret perusahaan yang ditampilkan dalam neraca perusahaan yang terdiri atas kewajiban, utang, modal, dan faktor lainnya. Berikut ini yang harus kita ketahui dalam merancang struktur permodalan.

1. Biaya utang

Biaya utang bisa dijadikan acuan karena dengan dua hal tersebut kita bisa mengetahui seberapa banyak permodalan atau pendanaan yang berasal dari utang dan modal itu sendiri.

Secara finansial, biaya utang adalah tingkat suku bunga yang dibayar, sedangkan biaya ekuitas adalah jumlah laba yang harus dibagi dengan pemegang saham baru. Dari tiga hal ini saja, kita sudah bisa mendapatkan poin-poin untuk merancang struktur tersebut.

2. Biaya saham

Penerbitan saham baru dianggap mendilusi kepemilikan saham atau dengan kata lain mengurangi hasil sekuritas yang tentunya berdampak kepada perolehan laba pemegang saham sekarang. Biaya saham ini bisa dihitung dan diestimasi dengan bagaimana pasar saham menilai saham-saham secara keseluruhan seperti halnya dalam Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG.

Biaya saham di sini harus lebih mahal dari biaya utang karena penyertaan saham menanggung risiko lebih tinggi. Namun, pengusaha harus menyadari risiko bahwa perusahaan belum tentu menghasilkan laba setinggi langit, malah bisa jadi merugi.

Dari dua faktor tersebut, bagi yang hendak mendapat tambahan modal harus disadari bahwa bukan hanya utang yang kita andalkan, tetapi ada ekuitas. Selain itu, risiko permodalan dari utang harus disadari betul selain tentu cara membayarnya juga.

Sebelum merancang, kita bisa membuat yang lebih sederhana dengan perencanaan bisnis untuk mengarahkan perusahaan mencapai goals. Selamat menjajal rancangan struktur modal, Guys!

You May Also Like

About the Author: Cak Muhai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *